Rabu, 12 Maret 2014

Terjebak di KIMIA


Terjebak di KIMIA

Nama saya Rivaldi Nursoba Zakia , saya berumur 19 tahun sekarang . iya saya lahir pada tahun 1995 tepatnya pada bulan Maret tanggal 14 pada hari selasa pagi. Saya merupakan salah satu bagian dari kampus Akademik Kimia Analalisis bogor , kampus yang khusus pada analisis bogor , ngeri memang ketika kita mendengar kata-kata kimia begitu pun saya mendengarnya.
Sebagian dari anda yang membaca ini mungkin mengira bahwa saya yang sekarang menjadi mahasiswa AKA yang jelas-jelas merupakan akademik tentang kimia itu menyukai kimia? Tapi sebenarnya saya tidak terlalu menyukai kimia , saya lebih tertarik kepada pelajaran Biologi. Mmemang aneh , saya yang jelas-jelas sudah satu semester menjadi mahasiswa AKA, tetapi tidak menyukai kimia yang faktanya menjadi makanan sehari-hari di AKA dimana saya menimba ilmu.
Dari kecil merupakan cita-cita saya menjadi dokter, bukan tanpa alasan tapi mmemang untuk bisa menjadi orang yang dapat mengobati orang banyak dan mengobati orang tua saya di kala sakit adalah cita-cita saya. Saya berfikir bahwa apabila saya menjadi seorang dokter saya akan selalu sehat , ketika anda sakit dan anda melihat kepada orang yang selalu sehat maka anda akan merasa bahwa sungguh tidak menyenangkannya menjadi orang sakit. Itu lah yang dialami oleh saya ketika kecil , iri rasanya ketika saya sakit dan melihat keluar rumah, dan kemudian saya lihat teman-teman sebaya saya sedang bermain di luar rumah. Itu yang menjadi dorongan saya untuk menjadi seorang dokter, dan juga ditambah lagi kalau saya dari SMP menyukai pelajaran IPA –Biologi , itu terlihat pula dari nilai-nilai saya yang lebih bagus di mata pelajaran Biologi.
“cita-cita hanyalah cita-cita jika tanpa dibarengi dengan usaha” itu yang saya yakini dari semenjak SMA kelas 1. Ketika mulai SMA saya tersadar bahwa untuk menjadi dokter itu tidak semudah yang saya kira ketika saya masih anak-anak. Butuh perjuangan yang sangat berat ,baik pikiran,harta ,dan waktu . Namun saya tidak menghiraukan itu dan melanjutkan perjuangan saya di SMA yang sangat banyak kenangan di dalamnya. Sampai suatu ketika saya sudah kelas 3 semester 2 , saya mulai untuk mencari tau tentang perkuliahan kedokteran yang murah dan menawarkan beasiswa bagi mahasiswanya.
Seiring berjalannya waktu , saya semakin mantap kepada kedokteran saya mulai giat belajar dan mulai kegiatan bimbingan belajar di salah satu tempat jasa pengajaran di luar sekolah. Saya pun sering mengobrol dengan guru-guru saya dan teman-teman saya tentang perkuliahan. Tapi kembali lagi kepada orang tua bagaimanapun yang membiayai semua itu adalah orang tua saya. Dan kemudian saya pun mulai mendiskusikan “akan kemana saya?”. Setiap ditanyai oleh orang tua saya tentang kuliah saya selalu menjawab ke kedokteran, ya mmemang itu adalah cita-cita saya dan saya yakin akan keputusan saya itu.
Kami sering mendiskusikan tentang perkuliahan , namun tidak ada keputusan akan kemana saya, tapi yang jelas saya ingin menjadi dokter dan bapa saya menyarankan ke AKA. Setelah banyak berdiskusi datang lah keputusan agar saya mengikuti kedua-duanya baik AKA , kedokteran dan juga universitas-universitas yang mmemang prospek kedepannya bagus.
Sudah banyak tes yang saya ikuti, bulak-balik bandung-sukabumi. Sembari berdoa agar diberikan yang terbaik bagi saya dan keluarga saya. Setelah sekian banyak tes yang saya ikuti , tinggalah menunggu hasil dari tes masing-masing.
Dan akhirnya kenyataan pahit yang harus saya dapat , bahwa saya hanya diterima di AKA bogor dan juga di POLTEKKES bandung. Setelah itu saya tidak pernah memilih diantara keduanya , yang saya ingin pada saat itu untuk tidak kuliah dan belajar setahun sambil menunggu tes kuliah kedokteran untuk tahun depan.
Saya dan orang tua saya pun kembali berdiskusi , namun saya hanya bilang bahwa saya hanya ingin menjadi dokter, egois mmemang tapi itulah cita-cita saya yang ingin saya capai.
Orang tua saya pun mulai untuk meminta pendapat kepada saudara-saudara saya dan juga teman-teman bapa saya. Dan hasilnya mereka lebih memilih AKA , dan akhirnya orang tua saya melakukan shalat istikharah untuk menentukannya dan mereka bilang bahwa AKA menjadi pilihannya.
Setelah itu saya hanya menuruti apa yang dikatakan oleh orang tua saya tanpa mengeluh dan meminta untuk tidak kuliah.
Akhirnya saya masuk AKA dan menjadi bagian dari AKA bogor. Dibutuhkan adaptasi yang cepat , dikarenakan saya mmemang tidak terlalu menyukai kimia dan harus begitu saja melupakan cita-cita saya menjadi seorang dokter ataupun dibidang kesehatan dan biologi.
Kimia memang bukan pelajaran yang saya senangi dan saya minati , tapi bagaimanapun inilah saya sekarang dan disini lah saya sekarang bersama teman-teman saya yang baik kepada saya. Meskipun bukan keinginan saya , tapi kimia adalah pelajaran yang akan saya sukai dan akan menjadi kebanggan saya dan motivasi saya untuk bertahan di AKA adalah ORANG TUA saya