Dua tahun lamanya , kami sudah
menjadi teman sekelas sejak kelas 2 SMA. Banyak cerita yang telah kami
jalankan. Saya , fanji , wafda , salman , atuk , robby , ucok dan aih , itu lah
kami . kami disatukan dalam suatu ruangan yang kita sebut dengan “kelas” ,
kelas yang menjadi kenangan di antara kami ber delapan. Suka duka kami jalani
bersama, mereka bukan teman saya juga bukan sahabat saya , tapi mereka adalah
keluarga saya. Keluarga dimana selalu ada dimana saat bahagia ataupun sedih.
Kami bermain bersama , sekolah sama-sama , main sama-sama , ngebolos sama-sama,
bahkan kabur pun sama-sama. Memang kenangan yang sangat manis bersama mereka .
Namun kenangan manis itu hanya lah tinggal kenangan manis yang selalu saya ingat
sampai sekarang.
Tidak terasa , kami pun sudah mulai
masuk zona Ujian Nasional. Kami pun mulai menyiapkan segalanya demi
memperjuangkan kelulusan yang hanya ditentukan oleh beberapa hari itu. Saat itu
, merupakan saat-saat dimana kita mulai berjalan masing-masing , mulai menjurus
ke arah masing-masing sesuai tujuan diri masing-masing. Saya kedokteran , fanji
dan robby kepolisian , wafda mengurusi kerja , aih dan ucok militer , atuk kepelayaran dan salman sibuk mencari perkuliahan.
Dan akhirnya , Ujian Nasional pun
tiba. Dengan persiapan yang telah kami siapkan belum membuat kami percaya akan
diri kami sendiri dapat lulus Ujian Nasional ini , karena bayang-bayang kami
tentang Ujian Nasional ini merupakan ujian yang menentukan masa depan kami.
Dengan sistem paket yang banyak yaitu 20 paket membuat kami pun harus berbuat
jujur, apa boleh buat tidak ada yang bisa lakukan untuk membantu sahabat kami
sendiri.
Setelah berjuang beberapa hari ,
kami pun tinggal menunggu hasil dari Ujian Nasional. Dan akhir nya kami pun
lulus semua meskipun nilai yang kami raih tidak terlalu bagus :D. Namun begitu
kami puas , bagaimanapun kami lulus dari SMA yang telah membesarkan dan
menyatukan kami sebagai keluarga ini.
Tidak terasa setelah hampir dua
tahun lamanya kita bersama , dan pada saat itu kami akan memulai hidup baru
dengan tujuan masing-masing. Dan perpisahan pun tak terluputkan dari kami.
Namun meskipun begitu kami mempunyai rencana untuk pergi ke gunung gede
pangrango ketika kami sebelum benar-benar terpisah. Rencana yang kami siapkan
sudah cukup matang , kami pun mulai menyusun barang-barang dan peralatan yang
harus dibawa. Kami pun berkumpul merundingkan rencana besar ini. Disana kami
memutuskan apakah akan ikut apa tidak dalam acara ini.
Waktu pun terus berjalan dan
semuanya sudah mengambil keputusan, setengah dari kami memutuskan untuk ikut
yaitu saya , fanji, wafda dan ucok. Sedangkan sisanya memilih tidak ikut dengan
berbagai alasan mereka masing-masing. Sayang memang , acara yang harusnya
dijalani bersama-sama berdelapan orang harus diikuti hanya empat orang. Namun
acara tetap lah acara kami pun yang tersisa melanjutkan perencanaan yang sudah
kami rencanakan. Kami mulai mendaftar dan mulai mengumpulkan barang-barang
bawaan.
Pertanggal 15 mei tahun 2013 kami
berangkat ke gunung gede, dan waktu pun semakin dekat akan hari H. Tibalah
saatnya , setelah kami sudah mempelajari kondisi disana dan menyiapkan segala
peralatan yang harus dibawa, kami pun berangkat pada hari rabu , tanggal 15 mei
. pagi-pagi sekali sekitar jam 8 kami sudah beragkat dari rumah masing-masing ,
kami berkumpul di halte kota. Saling menunggu dan saling menghubungi akhirnya
berkumpul lah saya, fanji dan wafda di halte kota yang sedang menunggu
kedatangan satu sahabat kami , ucok. Kami menunggu cukup lama akan
kedatangannya , saat itu ia sedang berada di bogor untuk keperluan Angkatan
Militer. Setelah cukup lama menunggu , tibalah sebuah pesan elektronik dari
handphone saya dari ucok. Ia berkata, bahwa dia tidak bisa ikut karena ada
keperluan mendadak yang harus ia selesaikan. Dengan perasaan yang kesal, kami
pun berangkat meskipun kebilang kami bertiga ini nekad.
Kami pergi menggunakan bus kota
menuju cianjur dan berhenti di terminal cianjur, kemudian menggunakan angkutan
kota untuk pergi ke tkp. Di perjalanan saya lihat wajah yang sangat bersemangat
dan sangat ceria dari teman-teman saya, malkum mereka baru kali itu mendaki
gunung.
Setibanya di sana , kami pun
disambut dengan hujan yang sangat besar. Namun meskipun begitu kami terus
berjalan karena hari sudah sore. Setelah lolos periksa di pintu masuk , kami
pun memulai langkah pertama kali di gunung gede ini. Hari mulai malam, dan kami
masih berjalan.
Di tengah hutan yang gelap gulita
kami pun berjalan dengan bermodalkan headlamp
dan lampu senter . Jalanan yang licin , becek dan menanjak terus kami injak
sembari meilhat sekitar yang penuh dengan pepohonan ini. Doa terus kami
panjatkan agar diberi kesalamatan , terutama saya sebagai pemimpin dalam
perjalanan kali ini , memang bukan kali pertama bagi saya tetapi mengingat
teman-teman saya yang tidak mempunyai pengalaman sebelumnya dan juga
bayang-bayang rute mana yang harus kami tempuh menjadi masalah yang paling
utama.Tas ransel masih kami bawa , tongkat yang menjadi tumpuan dan koper
kompor menemani perjalanan kami . Kaki terus berjalan , mata terus menatap ke
bawah memilih jalan mana yang akan di pijak, dan doa yang selalu kami panjatkan
, kami berharap ada orang lain yang menemani.
Tiba-tiba teman saya , wafda
mengeluh ingin buang air besar. Rasa bingun menghampiri kami , hanya pepohonan
dan jalan setapak yang kami lihat. Ia terus mengeluh akan keluhannya itu yang
membuat kami terpaksa untuk berhenti. Tanpa memikirkan akibatnya kami menggali
untuk sebuah lubang , disana lah wafda membuang keluhannya itu , sembari
berdoa. Lucu memang jika diingat sekarang , tapi pada saat itu hanya rasa takut
lah yang kami rasakan , tanpa senyum sedikit pun hanya mulut yang
berkomat-kamit memohon perlindungan.
Setelah itu kami terus berjalan ,
namun kali ini lebih cepat. Bukan tanpa alasan , kami mendengar suara lonceng
yang menandakan ada manusia lain di sekitar kami , dan ternyata benar , tak
jauh dari kami ada sekelompok orang yang juga memiliki tujuan yang sama seperti
kami. Rasa syukur kami panjatkan , dimana kami mulai merasa lebih aman. Namun
perjalanan masih panjang.
Malam itu kami lewati bersama-sama
di camp Kandang Badak , dan kami lanjutkan perjalanan pada pagi hari menjelang
siang hari. Dengan semangat yang sama kami mulai mendaki kembali, kali ini trek
jalan mulai tinggi. Kami terus berjalan, selangkah demi langkah. Sekitar 2 jam
kami sudah berjalan, namun tak terlihat tanda-tanda dari puncak gunung gede ini
hanya pepohonan yang tinggi dan tanah yang berpasir. Seratus langkah istirahat
seratus langkah istirahat, itu yang kami lakukan demi menjaga energi kami. Kami
terus bertanya apa yang ada di depan kami. Namun tak ada yang menjawab , kami
hanya mengandalkan nalar kami untuk terus berjalan. Tak ada yang kami dengar ,
kami terus berjalan menyusuri lebatnya pepohonan, hanya satu yang terpikir oleh
saya disana “semakin rendah pepohonan yang kamu lihat , maka semakin dekat kamu
dengan puncak gunung ini” .
Dengan semangat yang hampir luntur
, terlihat langit dan tak terlihat lagi pepohonan disekitarnya. Kami segera bergegas dengan seluruh tenaga
yang masih kami miliki , berlari mencapai tujuan kami ini. Dan , indahnya
pemandangan disana mencairkan lelah dan letih kami , seolah terhipnotis akan
menakjubkannya alam ini . Kami berteriak kegirangan. Pemandangan yang indah ini
ternyata memang benar-benar membius kami , dan kami mengabadikan momen indah
ini dengan memotret pemandangan ini.
Pemandangan yang indah memang,
tetapi hari mulai sore dan kami harus melanjutkan perjalanan kami ke alun-alun
Surya Kencana. Seakan betah disana memandangi keindahan alam ini , kami
memaksakan diri untuk turun. Setibanya di alun-alun Surya Kencana kami langsung
membagi-bagi tugas untuk membuat tenda di dekat goa , membuat parit di sekitar
tenda dan memasak untuk kami makan. Tak lupa sebelum itu kami menunaikan shalat
ashar terlebih dahulu, angin yang kencang dan kesunyian alam membuat kami
merasa damai.
Kami pandangi alam sekitar , dan
tak terduga awan hitam mulai berkumpul dan bergerak sangat kencang dan menutupi
taman edeilwise dan hari mulai gelap gulita yang diikuti petir yang menyala.
Hujan pun turun, kami masuk ke dalam tenda dan berkumpul. Tak terduga hujan nya
sangat lebat , parit yang kami buat tidak kuat menampung air yang turun , dan
membasahi tenda kami. Tak ada yang bisa kami perbuat , hanya melihat tenda kami
basah dan barang-barang pun basah. Kami berkumpul di tengah tenda dan
menyalakan kompor mencoba menghangatkan tubuh kami. Hanya api dari kompor yang
menemani kami , teringat semua kata-kata saran dari orang tua kami yang
melarang untuk berangkat. Namun hanya penyesalan lah yang ada. Rasa bersalah
pun menghampiri saya, apa yang dapat saya lakukan dan bagaimana bisa selamat
dari badai besar ini.
Dan diputuskan bahwa kita harus
bergerak, karena mungkin kita bisa mati kedinginan jika harus menunggu hujan
reda. Seketika kami terkejut melihat padang suryakencana , seolah disulap oleh
badai menjadi gelap gulita dan seram penuh petir. Satu hal yang kami cari
adalah tenda orang lain yang berkemah juga di surya kenacana itu. Tak lama kami
mencari, dua buah tenda berwarna kuning yang cukup jauh dari kami seolah
menjadi pertaruhan hidup kami. Petir yang gencar menyerang padang , membuat
nyali kami ciut, pasalnya kami takut apabila petir itu malah menyerang kami ,
wajar saja di padang itu tak ada bangunan yang tinggi atau pun pepohonan yang
tinggi di tengah padang yang harus kami lewati . Tapi apa daya yang bisa kami
lakukan hanya mencoba bertahan hidup. Saat itu saya hanya memerintahkan kepada
sahabat saya untuk membawa peralatan tidur dan tinggalkan semua yang
memberatkan. Dengan diawali doa, kami berjalan melewati sungai, dan padang
surya kencana yang terguncang badai itu. Kami berlari tak peduli apa yang kami
injak, mulut terus memohon, kaki terus bergerak , mata terus waspada mengiringi
perjalanan ini. Tak yang terbesat di dalam pikiran , hanya rasa bersalah
berdosa yang saya ingat.
Setibanya di tenda kuning , kami memelas
memohon agar diberi pertolongan. Dingin , lelah, cape, ketakutan , lapar
menghalangi malu kami untuk memelas. Dibuka nya pintu dari tenda, seorang pria
mencoba berbicara pada kami. Dan kami hanya memelas pertolongan.
Tuhan mengabulkan doa kami , kami
dipersilahkan masuk namun hanya sampai hujan berhenti menetesi alam bumi ini.
Tak ada pakaian yang saya bawa , hanya sleeping
bag lah yang saya bawa. Kedinginan yang melanda saya ,memaksa saya melepas
pakaian saya yang basah kucup. Hanya berselimut sleeping bag saya mencoba untuk istirahat ditemani kopi yang tidak
hangat. Kami berbincang , menceritakan hal-hal yang mengerikan dan cerita
tentang hidup kami.
Seolah malaikat ,
mahasiswa-mahasiswa depok ini menolong kami. Diberinya saya jaket dan makanan
ringan untuk menghangatkan tubuh saya. Mereka menanyai kami tentang perjalanan
yang sudah kami tempuh , tertawa menertawakan menjadi obat bius kami melupakan
sejenak perjalanan yang mengerikan tersebut.
Doa yang saya panjatkan hanya
keselamatan kami, hujan yang terus mengguyur menjadi harapan kami untuk terus
berdiam di tenda mereka. Kerinduan akan sinar matahari saya rasakan, kami
tanyakan jam berapa ini jam berapa ini. Malam itu terasa berjalan sangat lama ,
mencoba untuk tidur pun susah. Lapar terus kami keluhkan , namun apa yang kami
bisa makan , pasrah yang bisa kami lakukan.
Pagi tiba , sahabat saya meneriakan
kesenangan nya . kami pun keluar mencari kehangatan sinar matahari. Kemudian
saya langsung mencari sumber air , di sungai yang mengalir dengan tenang , diambilah
oleh saya air untuk berwudhu . Sajadah saya letakan menghadap kiblat , seraya
berdoa sangat bersyukurnya saya akan kesempatan yang tuhan telah berikan kepada
saya dan kepada sahabat-sahabat saya.
Moment yang menyenangkan ini lantas
kami abadikan dengan foto , seolah melupakan tadi malam . rasa terima kasih
kami sampaikan kepada mereka , kami berjabat tangan bersalaman . kemudian kami
menghampiri tenda kami , dan memulai menjemur peralatan kami yang basah ini.
Kami membagi tugas , ada yang menyiapkan makanan ada yang membereskan peralatan
dan lainnya. Setelah semua kami lakukan , kami makan dan berniat untuk
beristirahat sejenak. Namun tak terduga , kabut putih menghampiri kami berjalan
cukup lamban yang diikuti awan hitam di belakangnya. Melihat itu , seakan
trauma kami langsung bergegas pulang , dengan kecepatan yang tidak biasa kami
berjalan cepat pulang. Kami turun dengan penuh kabut, beberapa kali kami jatuh
, beban yang tambah berat oleh air membuat kaki gemetar menjadi saksi kelelahan
yang kami rasakan pada saat itu. Kami pun terus berjalan , medan yang rusak
akibat longsor pun mewarnai perjalanan kami.
Sekitar 3 jam perjalanan turun ,
menuruni gunung putri yang cukup curam kami pun sampai di kaki gunung putri.
Sungguh rasa syukur yang kami panjatkan , akhirnya perjalanan ini berakhir
dengan selamat. Isitirahat lah kami di depan warung di sana , baso yang
menemani kami menjadi santapan yang enak.
Setelah shalat dan sebagainya kami
pun pulang dengan menggunakan angkutan umum sampai sukabumi. Perjalanan yang
akan terus saya ingat. Kaki yang terus berjalan , mata yang terus melihat ke
bawah , mulut yang terus memanjatkan doa. Di sana lah kami bercerita akan kisah
kami yang tak akan terlupakan.