Terjebak di KIMIA
Nama saya Rivaldi Nursoba Zakia , saya berumur 19 tahun
sekarang . iya saya lahir pada tahun 1995 tepatnya pada bulan Maret tanggal 14
pada hari selasa pagi. Saya merupakan salah satu bagian dari kampus Akademik
Kimia Analalisis bogor , kampus yang khusus pada analisis bogor , ngeri memang
ketika kita mendengar kata-kata kimia begitu pun saya mendengarnya.
Sebagian dari anda yang membaca ini mungkin mengira bahwa
saya yang sekarang menjadi mahasiswa AKA yang jelas-jelas merupakan akademik
tentang kimia itu menyukai kimia? Tapi sebenarnya saya tidak terlalu menyukai
kimia , saya lebih tertarik kepada pelajaran Biologi. Mmemang aneh , saya yang
jelas-jelas sudah satu semester menjadi mahasiswa AKA, tetapi tidak menyukai
kimia yang faktanya menjadi makanan sehari-hari di AKA dimana saya menimba ilmu.
Dari kecil merupakan cita-cita saya menjadi dokter, bukan
tanpa alasan tapi mmemang untuk bisa menjadi orang yang dapat mengobati orang
banyak dan mengobati orang tua saya di kala sakit adalah cita-cita saya. Saya berfikir
bahwa apabila saya menjadi seorang dokter saya akan selalu sehat , ketika anda
sakit dan anda melihat kepada orang yang selalu sehat maka anda akan merasa
bahwa sungguh tidak menyenangkannya menjadi orang sakit. Itu lah yang dialami
oleh saya ketika kecil , iri rasanya ketika saya sakit dan melihat keluar rumah,
dan kemudian saya lihat teman-teman sebaya saya sedang bermain di luar rumah. Itu
yang menjadi dorongan saya untuk menjadi seorang dokter, dan juga ditambah lagi
kalau saya dari SMP menyukai pelajaran IPA –Biologi , itu terlihat pula dari
nilai-nilai saya yang lebih bagus di mata pelajaran Biologi.
“cita-cita hanyalah cita-cita jika tanpa dibarengi dengan
usaha” itu yang saya yakini dari semenjak SMA kelas 1. Ketika mulai SMA saya
tersadar bahwa untuk menjadi dokter itu tidak semudah yang saya kira ketika
saya masih anak-anak. Butuh perjuangan yang sangat berat ,baik pikiran,harta ,dan
waktu . Namun saya tidak menghiraukan itu dan melanjutkan perjuangan saya di
SMA yang sangat banyak kenangan di dalamnya. Sampai suatu ketika saya sudah
kelas 3 semester 2 , saya mulai untuk mencari tau tentang perkuliahan
kedokteran yang murah dan menawarkan beasiswa bagi mahasiswanya.
Seiring berjalannya waktu , saya semakin mantap kepada
kedokteran saya mulai giat belajar dan mulai kegiatan bimbingan belajar di
salah satu tempat jasa pengajaran di luar sekolah. Saya pun sering mengobrol
dengan guru-guru saya dan teman-teman saya tentang perkuliahan. Tapi kembali
lagi kepada orang tua bagaimanapun yang membiayai semua itu adalah orang tua
saya. Dan kemudian saya pun mulai mendiskusikan “akan kemana saya?”. Setiap ditanyai
oleh orang tua saya tentang kuliah saya selalu menjawab ke kedokteran, ya mmemang
itu adalah cita-cita saya dan saya yakin akan keputusan saya itu.
Kami sering mendiskusikan tentang perkuliahan , namun tidak
ada keputusan akan kemana saya, tapi yang jelas saya ingin menjadi dokter dan
bapa saya menyarankan ke AKA. Setelah banyak berdiskusi datang lah keputusan
agar saya mengikuti kedua-duanya baik AKA , kedokteran dan juga
universitas-universitas yang mmemang prospek kedepannya bagus.
Sudah banyak tes yang saya ikuti, bulak-balik
bandung-sukabumi. Sembari berdoa agar diberikan yang terbaik bagi saya dan
keluarga saya. Setelah sekian banyak tes yang saya ikuti , tinggalah menunggu
hasil dari tes masing-masing.
Dan akhirnya kenyataan pahit yang harus saya dapat , bahwa
saya hanya diterima di AKA bogor dan juga di POLTEKKES bandung. Setelah itu
saya tidak pernah memilih diantara keduanya , yang saya ingin pada saat itu
untuk tidak kuliah dan belajar setahun sambil menunggu tes kuliah kedokteran
untuk tahun depan.
Saya dan orang tua saya pun kembali berdiskusi , namun saya
hanya bilang bahwa saya hanya ingin menjadi dokter, egois mmemang tapi itulah
cita-cita saya yang ingin saya capai.
Orang tua saya pun mulai untuk meminta pendapat kepada
saudara-saudara saya dan juga teman-teman bapa saya. Dan hasilnya mereka lebih
memilih AKA , dan akhirnya orang tua saya melakukan shalat istikharah untuk
menentukannya dan mereka bilang bahwa AKA menjadi pilihannya.
Setelah itu saya hanya menuruti apa yang dikatakan oleh orang
tua saya tanpa mengeluh dan meminta untuk tidak kuliah.
Akhirnya saya masuk AKA dan menjadi bagian dari AKA bogor. Dibutuhkan
adaptasi yang cepat , dikarenakan saya mmemang tidak terlalu menyukai kimia dan
harus begitu saja melupakan cita-cita saya menjadi seorang dokter ataupun
dibidang kesehatan dan biologi.
Kimia memang bukan pelajaran yang saya senangi dan saya
minati , tapi bagaimanapun inilah saya sekarang dan disini lah saya sekarang
bersama teman-teman saya yang baik kepada saya. Meskipun bukan keinginan saya ,
tapi kimia adalah pelajaran yang akan saya sukai dan akan menjadi kebanggan
saya dan motivasi saya untuk bertahan di AKA adalah ORANG TUA saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar