Minggu, 06 Juli 2014

Tiga Sahabat di Gunung Gede Pangrango





Dua tahun lamanya , kami sudah menjadi teman sekelas sejak kelas 2 SMA. Banyak cerita yang telah kami jalankan. Saya , fanji , wafda , salman , atuk , robby , ucok dan aih , itu lah kami . kami disatukan dalam suatu ruangan yang kita sebut dengan “kelas” , kelas yang menjadi kenangan di antara kami ber delapan. Suka duka kami jalani bersama, mereka bukan teman saya juga bukan sahabat saya , tapi mereka adalah keluarga saya. Keluarga dimana selalu ada dimana saat bahagia ataupun sedih. Kami bermain bersama , sekolah sama-sama , main sama-sama , ngebolos sama-sama, bahkan kabur pun sama-sama. Memang kenangan yang sangat manis bersama mereka . Namun kenangan manis itu hanya lah tinggal kenangan manis yang selalu saya ingat sampai sekarang. 

Tidak terasa , kami pun sudah mulai masuk zona Ujian Nasional. Kami pun mulai menyiapkan segalanya demi memperjuangkan kelulusan yang hanya ditentukan oleh beberapa hari itu. Saat itu , merupakan saat-saat dimana kita mulai berjalan masing-masing , mulai menjurus ke arah masing-masing sesuai tujuan diri masing-masing. Saya kedokteran , fanji dan robby kepolisian , wafda mengurusi kerja , aih dan ucok  militer , atuk kepelayaran  dan salman sibuk mencari perkuliahan.

Dan akhirnya , Ujian Nasional pun tiba. Dengan persiapan yang telah kami siapkan belum membuat kami percaya akan diri kami sendiri dapat lulus Ujian Nasional ini , karena bayang-bayang kami tentang Ujian Nasional ini merupakan ujian yang menentukan masa depan kami. Dengan sistem paket yang banyak yaitu 20 paket membuat kami pun harus berbuat jujur, apa boleh buat tidak ada yang bisa lakukan untuk membantu sahabat kami sendiri. 

Setelah berjuang beberapa hari , kami pun tinggal menunggu hasil dari Ujian Nasional. Dan akhir nya kami pun lulus semua meskipun nilai yang kami raih tidak terlalu bagus :D. Namun begitu kami puas , bagaimanapun kami lulus dari SMA yang telah membesarkan dan menyatukan kami sebagai keluarga ini.

Tidak terasa setelah hampir dua tahun lamanya kita bersama , dan pada saat itu kami akan memulai hidup baru dengan tujuan masing-masing. Dan perpisahan pun tak terluputkan dari kami. Namun meskipun begitu kami mempunyai rencana untuk pergi ke gunung gede pangrango ketika kami sebelum benar-benar terpisah. Rencana yang kami siapkan sudah cukup matang , kami pun mulai menyusun barang-barang dan peralatan yang harus dibawa. Kami pun berkumpul merundingkan rencana besar ini. Disana kami memutuskan apakah akan ikut apa tidak dalam acara ini.

Waktu pun terus berjalan dan semuanya sudah mengambil keputusan, setengah dari kami memutuskan untuk ikut yaitu saya , fanji, wafda dan ucok. Sedangkan sisanya memilih tidak ikut dengan berbagai alasan mereka masing-masing. Sayang memang , acara yang harusnya dijalani bersama-sama berdelapan orang harus diikuti hanya empat orang. Namun acara tetap lah acara kami pun yang tersisa melanjutkan perencanaan yang sudah kami rencanakan. Kami mulai mendaftar dan mulai mengumpulkan barang-barang bawaan.

Pertanggal 15 mei tahun 2013 kami berangkat ke gunung gede, dan waktu pun semakin dekat akan hari H. Tibalah saatnya , setelah kami sudah mempelajari kondisi disana dan menyiapkan segala peralatan yang harus dibawa, kami pun berangkat pada hari rabu , tanggal 15 mei . pagi-pagi sekali sekitar jam 8 kami sudah beragkat dari rumah masing-masing , kami berkumpul di halte kota. Saling menunggu dan saling menghubungi akhirnya berkumpul lah saya, fanji dan wafda di halte kota yang sedang menunggu kedatangan satu sahabat kami , ucok. Kami menunggu cukup lama akan kedatangannya , saat itu ia sedang berada di bogor untuk keperluan Angkatan Militer. Setelah cukup lama menunggu , tibalah sebuah pesan elektronik dari handphone saya dari ucok. Ia berkata, bahwa dia tidak bisa ikut karena ada keperluan mendadak yang harus ia selesaikan. Dengan perasaan yang kesal, kami pun berangkat meskipun kebilang kami bertiga ini nekad.

Kami pergi menggunakan bus kota menuju cianjur dan berhenti di terminal cianjur, kemudian menggunakan angkutan kota untuk pergi ke tkp. Di perjalanan saya lihat wajah yang sangat bersemangat dan sangat ceria dari teman-teman saya, malkum mereka baru kali itu mendaki gunung.
Setibanya di sana , kami pun disambut dengan hujan yang sangat besar. Namun meskipun begitu kami terus berjalan karena hari sudah sore. Setelah lolos periksa di pintu masuk , kami pun memulai langkah pertama kali di gunung gede ini. Hari mulai malam, dan kami masih berjalan. 

Di tengah hutan yang gelap gulita kami pun berjalan dengan bermodalkan headlamp dan lampu senter . Jalanan yang licin , becek dan menanjak terus kami injak sembari meilhat sekitar yang penuh dengan pepohonan ini. Doa terus kami panjatkan agar diberi kesalamatan , terutama saya sebagai pemimpin dalam perjalanan kali ini , memang bukan kali pertama bagi saya tetapi mengingat teman-teman saya yang tidak mempunyai pengalaman sebelumnya dan juga bayang-bayang rute mana yang harus kami tempuh menjadi masalah yang paling utama.Tas ransel masih kami bawa , tongkat yang menjadi tumpuan dan koper kompor menemani perjalanan kami . Kaki terus berjalan , mata terus menatap ke bawah memilih jalan mana yang akan di pijak, dan doa yang selalu kami panjatkan , kami berharap ada orang lain yang menemani. 

Tiba-tiba teman saya , wafda mengeluh ingin buang air besar. Rasa bingun menghampiri kami , hanya pepohonan dan jalan setapak yang kami lihat. Ia terus mengeluh akan keluhannya itu yang membuat kami terpaksa untuk berhenti. Tanpa memikirkan akibatnya kami menggali untuk sebuah lubang , disana lah wafda membuang keluhannya itu , sembari berdoa. Lucu memang jika diingat sekarang , tapi pada saat itu hanya rasa takut lah yang kami rasakan , tanpa senyum sedikit pun hanya mulut yang berkomat-kamit memohon perlindungan.

Setelah itu kami terus berjalan , namun kali ini lebih cepat. Bukan tanpa alasan , kami mendengar suara lonceng yang menandakan ada manusia lain di sekitar kami , dan ternyata benar , tak jauh dari kami ada sekelompok orang yang juga memiliki tujuan yang sama seperti kami. Rasa syukur kami panjatkan , dimana kami mulai merasa lebih aman. Namun perjalanan masih panjang.

Malam itu kami lewati bersama-sama di camp Kandang Badak , dan kami lanjutkan perjalanan pada pagi hari menjelang siang hari. Dengan semangat yang sama kami mulai mendaki kembali, kali ini trek jalan mulai tinggi. Kami terus berjalan, selangkah demi langkah. Sekitar 2 jam kami sudah berjalan, namun tak terlihat tanda-tanda dari puncak gunung gede ini hanya pepohonan yang tinggi dan tanah yang berpasir. Seratus langkah istirahat seratus langkah istirahat, itu yang kami lakukan demi menjaga energi kami. Kami terus bertanya apa yang ada di depan kami. Namun tak ada yang menjawab , kami hanya mengandalkan nalar kami untuk terus berjalan. Tak ada yang kami dengar , kami terus berjalan menyusuri lebatnya pepohonan, hanya satu yang terpikir oleh saya disana “semakin rendah pepohonan yang kamu lihat , maka semakin dekat kamu dengan puncak gunung ini” . 

Dengan semangat yang hampir luntur , terlihat langit dan tak terlihat lagi pepohonan disekitarnya.  Kami segera bergegas dengan seluruh tenaga yang masih kami miliki , berlari mencapai tujuan kami ini. Dan , indahnya pemandangan disana mencairkan lelah dan letih kami , seolah terhipnotis akan menakjubkannya alam ini . Kami berteriak kegirangan. Pemandangan yang indah ini ternyata memang benar-benar membius kami , dan kami mengabadikan momen indah ini dengan memotret pemandangan ini. 

Pemandangan yang indah memang, tetapi hari mulai sore dan kami harus melanjutkan perjalanan kami ke alun-alun Surya Kencana. Seakan betah disana memandangi keindahan alam ini , kami memaksakan diri untuk turun. Setibanya di alun-alun Surya Kencana kami langsung membagi-bagi tugas untuk membuat tenda di dekat goa , membuat parit di sekitar tenda dan memasak untuk kami makan. Tak lupa sebelum itu kami menunaikan shalat ashar terlebih dahulu, angin yang kencang dan kesunyian alam membuat kami merasa damai.

Kami pandangi alam sekitar , dan tak terduga awan hitam mulai berkumpul dan bergerak sangat kencang dan menutupi taman edeilwise dan hari mulai gelap gulita yang diikuti petir yang menyala. Hujan pun turun, kami masuk ke dalam tenda dan berkumpul. Tak terduga hujan nya sangat lebat , parit yang kami buat tidak kuat menampung air yang turun , dan membasahi tenda kami. Tak ada yang bisa kami perbuat , hanya melihat tenda kami basah dan barang-barang pun basah. Kami berkumpul di tengah tenda dan menyalakan kompor mencoba menghangatkan tubuh kami. Hanya api dari kompor yang menemani kami , teringat semua kata-kata saran dari orang tua kami yang melarang untuk berangkat. Namun hanya penyesalan lah yang ada. Rasa bersalah pun menghampiri saya, apa yang dapat saya lakukan dan bagaimana bisa selamat dari badai besar ini. 

Dan diputuskan bahwa kita harus bergerak, karena mungkin kita bisa mati kedinginan jika harus menunggu hujan reda. Seketika kami terkejut melihat padang suryakencana , seolah disulap oleh badai menjadi gelap gulita dan seram penuh petir. Satu hal yang kami cari adalah tenda orang lain yang berkemah juga di surya kenacana itu. Tak lama kami mencari, dua buah tenda berwarna kuning yang cukup jauh dari kami seolah menjadi pertaruhan hidup kami. Petir yang gencar menyerang padang , membuat nyali kami ciut, pasalnya kami takut apabila petir itu malah menyerang kami , wajar saja di padang itu tak ada bangunan yang tinggi atau pun pepohonan yang tinggi di tengah padang yang harus kami lewati . Tapi apa daya yang bisa kami lakukan hanya mencoba bertahan hidup. Saat itu saya hanya memerintahkan kepada sahabat saya untuk membawa peralatan tidur dan tinggalkan semua yang memberatkan. Dengan diawali doa, kami berjalan melewati sungai, dan padang surya kencana yang terguncang badai itu. Kami berlari tak peduli apa yang kami injak, mulut terus memohon, kaki terus bergerak , mata terus waspada mengiringi perjalanan ini. Tak yang terbesat di dalam pikiran , hanya rasa bersalah berdosa yang saya ingat.
Setibanya di tenda kuning , kami memelas memohon agar diberi pertolongan. Dingin , lelah, cape, ketakutan , lapar menghalangi malu kami untuk memelas. Dibuka nya pintu dari tenda, seorang pria mencoba berbicara pada kami. Dan kami hanya memelas pertolongan. 

Tuhan mengabulkan doa kami , kami dipersilahkan masuk namun hanya sampai hujan berhenti menetesi alam bumi ini. Tak ada pakaian yang saya bawa , hanya sleeping bag lah yang saya bawa. Kedinginan yang melanda saya ,memaksa saya melepas pakaian saya yang basah kucup. Hanya berselimut sleeping bag saya mencoba untuk istirahat ditemani kopi yang tidak hangat. Kami berbincang , menceritakan hal-hal yang mengerikan dan cerita tentang hidup kami.
Seolah malaikat , mahasiswa-mahasiswa depok ini menolong kami. Diberinya saya jaket dan makanan ringan untuk menghangatkan tubuh saya. Mereka menanyai kami tentang perjalanan yang sudah kami tempuh , tertawa menertawakan menjadi obat bius kami melupakan sejenak perjalanan yang mengerikan tersebut.
Doa yang saya panjatkan hanya keselamatan kami, hujan yang terus mengguyur menjadi harapan kami untuk terus berdiam di tenda mereka. Kerinduan akan sinar matahari saya rasakan, kami tanyakan jam berapa ini jam berapa ini. Malam itu terasa berjalan sangat lama , mencoba untuk tidur pun susah. Lapar terus kami keluhkan , namun apa yang kami bisa makan , pasrah yang bisa kami lakukan.  
Pagi tiba , sahabat saya meneriakan kesenangan nya . kami pun keluar mencari kehangatan sinar matahari. Kemudian saya langsung mencari sumber air , di sungai yang mengalir dengan tenang , diambilah oleh saya air untuk berwudhu . Sajadah saya letakan menghadap kiblat , seraya berdoa sangat bersyukurnya saya akan kesempatan yang tuhan telah berikan kepada saya dan kepada sahabat-sahabat saya. 

Moment yang menyenangkan ini lantas kami abadikan dengan foto , seolah melupakan tadi malam . rasa terima kasih kami sampaikan kepada mereka , kami berjabat tangan bersalaman . kemudian kami menghampiri tenda kami , dan memulai menjemur peralatan kami yang basah ini. Kami membagi tugas , ada yang menyiapkan makanan ada yang membereskan peralatan dan lainnya. Setelah semua kami lakukan , kami makan dan berniat untuk beristirahat sejenak. Namun tak terduga , kabut putih menghampiri kami berjalan cukup lamban yang diikuti awan hitam di belakangnya. Melihat itu , seakan trauma kami langsung bergegas pulang , dengan kecepatan yang tidak biasa kami berjalan cepat pulang. Kami turun dengan penuh kabut, beberapa kali kami jatuh , beban yang tambah berat oleh air membuat kaki gemetar menjadi saksi kelelahan yang kami rasakan pada saat itu. Kami pun terus berjalan , medan yang rusak akibat longsor pun mewarnai perjalanan kami.  

Sekitar 3 jam perjalanan turun , menuruni gunung putri yang cukup curam kami pun sampai di kaki gunung putri. Sungguh rasa syukur yang kami panjatkan , akhirnya perjalanan ini berakhir dengan selamat. Isitirahat lah kami di depan warung di sana , baso yang menemani kami menjadi santapan yang enak.

Setelah shalat dan sebagainya kami pun pulang dengan menggunakan angkutan umum sampai sukabumi. Perjalanan yang akan terus saya ingat. Kaki yang terus berjalan , mata yang terus melihat ke bawah , mulut yang terus memanjatkan doa. Di sana lah kami bercerita akan kisah kami yang tak akan terlupakan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar